Agama adalah tonggak persatuan dan kesatuan yang dapat ditegakkan, agama adalah awal kebersamaan yang dapat dirasakan, dan dari agama juga kita tahu mana yang tidak patut dilakukan dan apa yang pantas untuk dilaksanakan. Namun seiring berjalannya waktu, perpecahan, permusuhan, dan kerusakan berawal dari sebuah persatuan yang indah dan bahagia, namun dimanfaatkan secara sepihak dan disalahgunakan. Sudah sejak dahulu solusi dari perpecahan agama sukar untuk ditemukan, baik solusi untuk masalah internal agama itu sendiri, ataupun solusi untuk masalah antar agama.
Semakin dewasa dan semakin matang untuk
berpikir tidak menutup kemungkinan adanya perpecahan yang timbul dari awal yang
sederhana, namun berlangsung dan berakhir dengan penuh drama, hal tersebut dikarenakan
kurangnya kesadaran yang penuh atas dampak dari perbuatan yang kita lakukan.
Persoalan agama di lingkungan kita masih tergolong menjadi hal yang sensitif
untuk dibahas dan dibicarakan, bukan hanya minimnya pengetahuan beragama, namun
persoalan yang sangat mendasar adalah minimnya sikap toleransi antar sesama,
baik toleransi berpendapat, toleransi bersikap, dan toleransi dalam mengambil
keputusan.
Kita terbiasa tergiring dalam situasi dan
kondisi lingkungan sekitar kita, aman, tentram, dan damai menjadi jaminan
apabila kita terus berada di zona tersebut. Namun tidak kita sadari secara
langsung bahwasannya kolot, berpikiran sempit, dan egois akan menjadi resiko besar yang harus kita terima untuk diri
kita sendiri maupun kelompok apabila terus menutup diri dari lingkungan lain
disekitar kita.
Pentingnya toleransi sudah sewajarnya
menjadi hal yang biasa kita lakukan, bagaimana kita menangkap, menerima, dan
mengolah perkataan, perbuatan, dan sikap orang lain. Lebih lagi toleransi
mengenai keberagaman agama di negeri kita, Indonesia. Kita ketahui bersama
sudah ada 6 agama yang telah diakui oleh Pemerintahan Indonesia, diantaranya
adalah Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
Banyaknya agama yang tersebar di Indonesia
juga menjadi ciri khas dari negara kita, yakni semboyan Bhineka Tunggal Ika,
alias berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Berdirinya Negara Kesatuan Republik
Indonesia tidak lepas dari peran penting tokoh-tokoh agama yang mengesampingkan
ego mereka terhadap kepercayaan masing-masing demi kemerdekaan dan kejayaan
NKRI. Hal tersebutlah yang seharusnya menjadi contoh kita untuk terus
menciptakan suasana lingkungan sosial agar tetap damai dan tentram.
Keberagaman agama pasti berikatan erat
dengan istilah mayoritas dan minoritas, menurut laman https://indonesia.go.id/profil/agama
penduduk Indonesia didominasi oleh umat islam, dengan presentase 87,2% dari
seluruh rakyat Indonesia. Namun istilah mayoritas dan minoritas sudah sepantasnya
jarang digunakan dalam frasa sehari-hari, karena lebih sering berkonotoasi
negatif. Hal kecil seperti itulah yang bisa menjadi titik awal dari tegaknya toleransi
beragama di Indonesia.
Banyak kita jumpai orang-orang disekitar
kita yang sangat fanatik atas kepercayaan yang mereka anut, memang tidak salah
untuk percaya dan memegang teguh apa yang kita yakini, namun penempatan dan
pengolahan keputusan yang kita miliki seharusnya menjadi hal penting yang harus
kita perhatikan. Jangan sampai apa yang kita yakini justru menjadi titik lemah dari
diri kita sendiri, semakin kita intoleran terhadap kepercayaan seseorang atau
kelompok lain, maka semakin rendah pula anggapan orang lain tentang diri kita.
Intoleransi dalam beragama juga merugikan
seseorang atau kelompok secara tidak langsung, dalam artian orang atau kelompok
tersebut berada di pihak yang sama dengan kita namun tidak memiliki kontak langsung
dengan kita juga ikut dirugikan, karena memiliki background yang sama
dengan apa yang kita yakini. Sehingga sifat intoleransi yang kita lakukan akan
berdampak pada kelompok, dan agama itu sendiri.
Oleh karena itu perwujudan dari sifat
toleransi dalam beragama harus dirancang dan dibangun sedini mungkin dan sebaik
mungkin, seperti pondasi rumah yang kokoh akan tetap bisa menahan material
apapun yang rumah itu perlukan. Sama halnya dengan sifat toleransi, seberagam
apapun keyakinan diantara kita bersama, asalkan kita memiliki sifat toleransi
yang kuat maka keyakinan kita tidak akan tergoyahkan, hal itu juga berdampak
pada lingkungan sekitar yang menilai kita dengan penilaian yang objektif dan
positif.
Penanaman pendidikan karakter yang sudah
kita pelajari dulu waktu kecil sampai dewasa ini mengenai bagaimana kita
menghargai seseorang, bagaimana harus bersikap sabar, bagaimana harus menerima
pendapat seseorang, sudah sepatutnya kita terapkan dan kita kampanyekan, karena
dari sisi penulis sendiri merasa teori yang kita dapatkan sudah lebih dari kata
“cukup” namun masih kurang di penerapannya. Oleh karena itu kampanye gerakan
toleransi, khususnya toleransi beragama sangat dibutuhkan, sehingga masyarakat
Indonesia tidak hanya mendapatkan teori melalui pendidikan formal saja, namun
juga menerima pembelajaran secara langsung berupa penerapan sifat dasar
toleransi beragama dalam sehari-hari.
Ada pepatah “lebih baik mencegah daripada
mengobati” adalah langkah awal mencegah terjadinya intoleransi beragama,
seperti tidak memaksakan kehendak diri sendiri pada orang lain, peduli pada
lingkungan dan sekitar, tidak menganggap agama kita lebih baik dari agama-agama
lain, tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma untukmencapai tujuan
tertentu, dan tidak tidak mencari keuntungan pribadi daripada kesejahteraan
orang lain. Hal tersebut perlu diingat karena semua agama memiliki tujuan yang
sama, yakni mencapai kebaikan dan menjauhi keburukan, hanya saja perbedaan
jalan yang ditempuh. Untuk sebagian orang yang masih tertutup pikirannya
perbedaan agama sudah menjamin adanya mana yang sangat salah dan yang sangat benar,
sehingga apabila langkah pencegahan itu tidak dilakukan dengan baik, maka
perpecahan dan permusuhan bisa tercipta. Hal seperti itulah yang menjadikan
kondisi makin tak terkendali, yang awalnya sederhana menjadi rumit, dan yang
awalnya biasa saja menjadi tidak biasa.
Lantas apa yang bisa kita lakukan apabila
nama kita atau kelompok sudah memiliki catatan buruk tentang intoleransi dalam
beragama? Hal yang bisa kita lakukan ialah evaluasi dan perbaikan, mulai dengan
cara permohonan maaf, pengembalian nama baik korban, membangun nama baik
kembali untuk pelaku. Seperti halnya apabila kita berbuat kesalahan, kita tidak
bisa terus-menerus untuk membahas dan mempelajari lebih dalam kesalahan kita,
ada waktunya kita harus menutupi kesalahan tersebut dengan kebaikan lain,
lambat laun kesalahan yang kita perbuat bisa tertutupi dengan hal-hal positif/
citra positif yang kita pancarkan. Sehingga tidak ada alasan untuk memberikan
sedikit perhatian atas kesalahan masa lalu apapun itu, khususnya permasalahan
intoleransi dalam beragama, karena semua hal besar yang akan kita hadapi juga
akan berkaca pada hal kecil yang usdah kita lakukan di hari yang lalu.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
perilaku toleransi beragama merupakan sikap dasar kita semua untuk menciptakan
suasana NKRI menjadi lebih aman, damai, dan tentram. Tidak ada alasan untuk
bersikap egois, fanatik buta, dan intoleransi beragama. Jaga jarak untuk diri
kita dari lingkungan yang memiliki suasana negatif meskipun tidak terlihat
sekalipun. Kekompakan kita bersama untuk membangun Indonesia lebih baik dan
beretika.
Muhammad Iqbal Fawwazamulya
NIM. 225060501111037

Komentar
Posting Komentar